Gue mau minta maaf dulu ke diri gue sendiri
karena gak konsisten menulis. Lagi males.
Sewaktu kecil gue selalu dididik berdasarkan
agama. Diwajibkan sholat ketika sudah berumur 10 tahun, bahkan orang tua gue
memukul kalau tidak sholat. Waktu gue kecil gue sudah dilatih untuk terbiasah
sholat 5 waktu. Toleransi pada waktu subuh karena gue susah dibangunin (waktu
kecil -10th). Bahkan gue ditakut-takuti bahwa nanti jika gue tidak
sholat gue akan didatengin ular berkepala 6 dan ular itu akan menggigit kepala
gue, memotong, mencabik diri gue sampai hancur lalu dibakar. Gue nangis pada
waktu itu, ketakutan, dan akhirnya gue sholat. Padahal itu cerita yang menarik
kalau dipikir-pikir sekarang. Mungkin bisa dijadikan series.
Nilai agama gue selalu tertinggi sejak gue SD
setidaknya sampai MA (sejenis MAN tapi swasta) karena di MA pelajaran agama sudah
mulai bercabang ada Fiqih, Aqidah, Qur’an Hadist, Sejarah Islam, dan Bahasa
Arab (pikiran gue kacau).
Oh iya…
Gue pernah cerita di blog ini kalau gue
pernah tinggal dipesantren. Tepatnya di Ponpes. Bustanul Makmur. Gue
akan cerita tentang kehidupan seru dan lesu dipesantren, tapi itu nanti di lain
kisah aja. Kali ini gue akan berfokus tentang keinginan dan agama.
Keinginan gue waktu kecil (bukan TK) yaitu
menjadi kyai dikampung gue, oleh karena itu gue sangat enjoy ketika belajar agama.
Gue suka hafalan, menulis, bersyair dan apapun itu yang penting tentang agama. Hingga
suatu saat gue resah sendiri. Tepat waktu itu seinget gue kelas 3 MA. Gue mulai
ngerasa kesulitan dalam menghafal seperti tahlil, yaasin, wiridan, bacaan do’a dan
apapun itu. Dan gue sadar itu sangat critical untuk terjun kemasyarakat
nantinya. “masa anak pesantren gak bisa mimpin yaasin dan tahlil?, dulu mondok
dimana?” begitulah kira-kira yang akan dikatakan masyarakat. Selain gue kena. Pesantren
gue juga kena. Padahal gak salah, guenya aja yang males dan bebal.
Kegelisahan seperti itulah yang membuat
akhirnya gue bertanya-tanya kepada diri gue yang gak bisa teguh pendirian ini. “nanti
lulus MaDin (Madrasah Diniyah) mau ngapain?, nanti lulus MA mau kemana?”. Niat awal
mau lanjut dipesantren bahkan kalau bisa sampai gue mau menikah baru gue
keluar. Tapi niat itu hanya kretekan hati gue yang langsung hilang.
Akhirnya gue memutuskan untuk boyongan (keluar
dari pesantren). Gue gak tau mau kemana. Jadi gue kuliah.
Keinginan gue ingin menjadi kyai pun sirna. Malah
gue menghindar dari sorot pandang masyarakat mengingat gue lulusan pesantren. Gak
pernah adzan (rumah gue samping masjid), jarang jama’ah, jarang tadarusan dan ga pernah mau jika disuruh menjadi bilal jum’at. Gue risih ketika orang nyuruh
gue itu dan ngomong “katanya lulusan pesantreeenn” (mulutnya sambil menyinyir).
Gue sengaja menolak karena kalau gue mau… kemungkinan akan menjadi itu
seterusnya.
Jadi stop nyuruh gue ngelakuin itu. Apakah salah?
Gue gak tau.
Komentar
Posting Komentar